slmet a wijaya
Hidup bukan perdagangan yang berprinsip selalu untung. Namun, sebuah perjalanan terbatas yang telah diatur bermacam rambu. Untung, rugi, susah, bahagia diantaranya. Serakah, memonopoli bukanlah haknya. Poligami? ah…
Hari Senin Pertengahan Januari 2002 menjadi hari paling bahagia dalam hidupku. Pria yang sangat aku kasihi telah mendampingiku. Kami bersanding bagai ratu dan raja. Tubuhku yang menurut teman-teman perempuan kelihatan montok, makin cantik berbalut pakaian penuh pernak-pernik. Tak sedikit kaum adam mengataiku sungguh bahenol setelah mengenakan gaun pengantin. Mungkin benar, mengingat gaun yang ku pakai itu merupakan terbaik yang pernah ku miliki dan berharga spesial. Kondisi kesehatanku juga sangat vit, sehingga kuat berdiri sekian jam untuk dipelototi ratusan pasang mata. Penat atau letih pun menjauh, berganti kesejukan terhujani senyum dan kilatan gigi-gigi putih di antara tawa para undangan.
Namun, tetap tidak mencapai seratus persen merasakan kenyamanan pada hari paling bersejarah itu. Ada kekhawatiran, apakah penampilanku benar-benar mampu menebarkan pesona. Apakah properti dan ugarampe yang telah dipersiapkan dengan baik, apakan menu hidangan mampu menggugah selera, apakah teman-temanku tidak mencemooh karena pestaku sepi lantaran tak ada panggung hiburan. Dan banyak lagi apakah-apakah lainya, mengingat persiapan hajatan dilakukan sekadarnya saja.
Beruntung perasaan kebat-kebit itu segera tertangkap oleh para karibku. Aku segera menerima nasehatnya dan membuang jauh-jauh perasaan-perasaan mubajir itu. Rasa khawatir boleh tetapi tidak perlu berlebihan. Akibatnya malah akan mempengaruhi penampilanku. Dan, banyak lagi petuah-petuah simpati dari teman-temanku, agar pikiran dan jiwaku tetap tenang tak perlu banyak memelihara dag dig dug. “Riasan yang terbaik bukanlah make-up yang tebal, melainkan hati yang gembira. Ketulusan senyummu tidak bisa ditutupi dengan sanggul atau gaun yang mahal sekalipun, untuk itu kamu harus rileks,” nasehat Yanti. “Pastikan kamu melangkah ke ruang resepsi nanti, tidak ada beban pikiran,” imbuh Santi teman satu kelas sewaktu SLTA. “Pokoknya tenangkan hatimu, dan nikmatilah semaraknya pesta dengan menerima ucapan setulus hati dari sanak kerabat, “ Umi urun rembug. “Niscayakan kamu akan menebarkan pesona kecantikan sejati yang alami,” petuah Wiwin.
Kata-kata bijak dari para sohibku itu terus melintasi anganku sehingga tak terlihat melamun di pelaminan walau sekejap. Nasehat-nasehat mereka itu semua benar. Aku memang terlalu banyak pikiran. Untung aku sangat menguasai keadaan kalau tidak, wajah yang sudah dipoles juru rias itu akan sia-sia menjadi tertekuk dan muram. Senyum pun tampak dipaksakan. Ah!
Pesta pengantinan itu memang berlangsung sangat sederhana. Tidak digelar di gedung dengan dekorasi wah, tetapi cukup di rumah yang masih sarat nuansa aroma pedesaan. Budaya penyelenggaraan resepsi di gedung belum menyentuh ke sana. Bahkan siapa berani mencoba melaksanakan pesta perkawinan itu di gedung, kemungkinan para tetangga terpaksa rela tidak hadir. Selain asing, kikuk juga minder. Melengkapi kesederhanaan itu, persta tidak diramaikan dengan sesuatu hiburan.
Padahal mempelai wanita merupakan perempuan tunggal dari lima bersaudara. Bukan terlalu ngirit, sebenarnya keinginan kedua orang tua mempelai wanita sangat menginginkan pesta itu dilaksanakan semeriah mungkin. Adat yang lazim dilakukan di desa itu, jika mempunyai anak gadis bila menikah nanti, terlebih sebagai perempuan satu-satunya dalam keluarga, kalau menikah diniatkan meriah.
Sudah banyak tetangga Burhan yang tinggal di Bekasi pesisir utara ini, kalau hajatan selalu mengadakan pentas hiburan seperti layar tancap, lenong, gambang kromong, topeng Betawi, dangdut, tarling Cirebonan maupun organ tunggal yang telah mewabah.
Usut punya usut penyebab pesta perkawinan itu menjadi kurang greng lantaran kemauan mempelai pria. Lelaki asal Purwokerto itu tidak mau pesta perkawinannya dimeriahkan sebesar-besarnya. “Sederhana sajalah pak…,” usul Kusnendar kepada calon mertuanya beberapa pekan sebelum hari H. “Nanti anggaran yang buat tanggapan kan bisa dialihkan untuk keperluan lain, yang penting akad nikahnya bukan hiburannya,” Kus meyakinkan.
Tak mau banyak debat, sang camer pun menyetujui kemauan calon menantunya itu. Padahal kalau menuruti keinginan hatinya, Burhan ingin juga seperti para tetangganya yang menggelar hajatan jor-joran. Bahkan, tidak sedikit tetangganya yang cenderung memaksakan diri di luar kemampuan sebenarnya. Istilahnya, dalam pesta itu selain mengadu kemampuan juga nasib. Tak sedikit yang mengibaratkan sebagai ‘judi’, tanpa mengukur kemampuan keuangan dibela-belain ngutang sana-sini demi pesta meriah dan wah. Namun, begitu tamu undangan yang diharapkan hadir sekian ribu orang, realisasinya hanya sekian ratus orang, ujung-ujungnya nombok. Habis pesta menanggung utang. Tidak heran jika sehabis pesta meubel, kulkas dan barang-barang lain melayang disita pemasok kebutuhan pesta karena tidak mampu membayarnya.
Mungkin pertimbangan itu yang membuat Burhan menerima dengan senang hati mengikuti saran calon menantunya. Walau, sebenarnya keinginan Kus itu merupakan pelecehan bagi pengusaha hiburan. Coba kalau semua calon pengantin bisa mempengaruhi orang tua maupun para camernya, supaya pesta perkawinannya tidak perlu hiburan, apa tidak mengancam kelanggengan usaha mereka. Untung hanya segelintir saja yang seperti Kus itu.
Kenyataanya, Burhan memang lebih memilih menantu ketimbang mempertahankan egonya. Melangsungkan pesta yang ala kadarnya itu saja, hati Burkan dan istrinya sudah senang. Sebab, waktu-waktu sebelumnya Kusnendar selalu bersikeras hanya ingin menikah secara diam-diam. “Kalau seperti itu kami tidak enak sama tetangga. Nanti apa kata mereka, Midah itu kan anak perempuan semata wayang, masa ya setega itu….?” usul Burhan menawar. Kesepakatan pun tercapai, kedua insan yang saling cinta pun naik ke pelaminan.
Bersanding di kursi pengantin amatlah membahagiakan. Selisih umur yang hampir lima belas tahun tak membuat cinta Midah luntur. Hamidah usianya baru sembilan belas tahun, yakni usia yang ibarat mangga Arumanis Indramayu sedang mengkal-mengkalnya. Atau bagai kembang mawar sedang merekah. Sekaligus masa peralian dari pubertas menuju kedewasaan. Sedangkan Kus sudah hampir kepala empat, merupakan usia yang sudah sangat matang.
Dalam suasana bertabur kembang, mereka syahdu mereguk manisnya madu asmara. Tak henti-hentinya mereka larak-lirik melepas senyum dari bibirnya yang merah menantang, seolah sudah tak sabar menanti pesta usai.
“Kenapa mas…?” tanya Midah lirih.
“Lama banget rasanya?”
Si cantik di sandingnya, sekelebat melepas sorot matanya ke sudut ruang. “Baru jam tujuh mas,” hibur sang istri, “Sudah tak sabar yah…..?” tanya wanita yang berdandan paling menawan malam itu menggoda.
“Iya, pisauku sudah tajam nih?”
“Lho kok pisau sih…?” Midah gak mudeng.
“Ya pisau…, mosok untuk mbelah durian pakai pacul?”
“Ah mas bisa aja,” sahut Midah mencubit kecil pinggang Kus. “Sakit nggak mas kena pisau…?”
“Apa dik Midah tidak pernah kena ….?”
“Ih…mas…” Midah mencubit lagi.
“Maksudku, apa Midah belum pernah makan durian?”
“Pernah.”
“Gimana rasanya?”
“Enak, gurih, manis, harum dan….,”
“Seperti itulah di antara pesan yang akan ku sampaikan,” sambar Kus menggoda.
Mempelai wanita hanya tersipu gemas.
Tamu-tamu undangan tak menghentikan tatapan matanya memberondong kepada sejoli yang makin asik kasak-kusuk. Termasuk Nirwan, Beni dan Hadi yang menyertai Kusnendar.
Soal minimnya teman mempelai pria, nampaknya sudah diplot oleh Kus. Demi alasan efisiensi, Kus sengaja tidak banyak membawa saudara-saudarinya dari kampung halaman untuk menyaksikan proklamasi kehidupannya. Cukup tiga orang itulah yang diklaim sebagai yang wewakili keluarganya.
Sang camer sebenarnya sempat masgul, ternyata Kusnendar dianggapnya bukan hanya miskin penghasilan, tetapi juga miskin kerabat. Memang, tidak semua tetangga kanan kiri Burhan adem-ayem menerima asal-usul Kusnendar. Bagi yang kontra tak pelit menyindir sangit sehingga membuat empunya pesta mangkel. “Kasian Midah mendapat jodoh sudah bangkotan bokek lagi.” Jodoh, umur dan rezeki sudah diatur Tuhan, yang penting bahagia dalam bidug rumah tangga, bela yang pro. Untungnya, gadis Hamidah tak ambil pusing menanggapi polemik itu. Gadis berambut lurus itu mempunyai solusi tersendiri. Urusan cinta miliki nurani, urusan hati menjadi hakiki. Mencibir, menyindir dan mengunjing memang menjadi hak setiap insan termasuk tetangga, silahkan saja menggunakan haknya.
Sementara yang mau menanggung kehidupan lahir dan batin adalah dirinya. Baginya mendapatkan jodoh yang berasal dari ranah Jawa itu patut disyukuri, karena sudah lama mendambakan jodoh orang rantau dan telah kesampaian. Mau kaya alhamdulillah mau kere ya diterima saja, itu juga kan merupakan anugerah. Yang penting rajin berusaha dan tidak putus asa, masa depan niscaya akan bisa diukir dengan baik, demikian analisisnya.
Di ruangan pojok, Beni yang masih membujang ikut hanyut atau malah sedang mengkhayal hal percintaan, sampai cegukan memperhatikan kemesraan mereka. “Indah tenan….” celetuknya.
“Ngiri Ben?” tanya Nirwan.
“Ngiri sih ngiri tapi nggak gablek duit.”
“Emang harus pakai duit?” kejar Hadi.
“Emang mesra itu tidak pakai duit tetapi pakai wanita cantik, maksudku harus ada modal untuk memboyong wanita cantik,” jawab Beni sekenanya.
Nirwan dan Hadi hanya bisa urun nyengir dan memaklumi ketengilan mulut sahabatnya yang suka usil itu. Bersambung ke bag 2

November 10, 2008 pukul 3:46 am |
Wah suka menulis rupanya…ditunggu lanjutannya.
Btw Kusnendar ini nama embah saya hehehehehe…
November 10, 2008 pukul 10:26 am |
Ya itung2 latihan yang sebenarnya sdh terlambat. Mestinya seusiaku wis dadi maestro. Eh malah nembe mulai nyastro. Mulane ya ora isin senajan tuliskane esih belepotan dan betele2, wong jenengane latihan kok. Tapi yang penting buat olah raga otak.
Nah, nek ngono aku kan jadi ngerti nek sampeyan ternyata masih ada trah sama Kusnendarku itu, he..he..he…
Asline aku mengingatkan nama seorang guru Matematika saat masih SMP, guru kiler itu jg dari Malang, nama lengkape Kusnendar Uswibowo. Kiler tapi pinter dan bijaksana. Ngomelin habis-habisan ya, tapi ga pendendam nyatane angka matematikaku neng ijasah tetap di ke’i angko padahal hariane slalu kebakar.
November 11, 2008 pukul 9:00 am |
Salam kenal pak lek…
Hm, tulisannya bagus lho…
ora pernah nyoba kirim ke surya atau yang lainnya ?.
siapa ngerti diangkat dan mulai terkenal dech…
BTW, hamidah cah ngendy yo ?,
kok koyo jenenge Mbak Yu sepupu…
tapi, Ohm Dat ngomong Kusnendar embahe, mosok Sepupuku enthuk mbah-e Ohm Dat ?, hi… ngeri….
hehehe….
November 11, 2008 pukul 11:12 am |
@dewicin
Salam tak terima dengan tangan terbuka, ponaanku sing gampang emut sedulur….
Salam sayang kanggo ponaan junior yo, saiki wis pirang taun? Moga2 dadi anak sing bekti ambek wong tuo (soleh/solehah) amin.
Kesuwun, njenengan dah membaca cerpen pertamaku di jagad maya. Tanggapan negatif aja saya terima kasih, opo maneh jere ono rasane ya alhamdulillah.
Ya pancen pak lek ga pernah nyoba kirim ke media manapun
Hamidah sih koyo-koyone wong Cilacap, tapi neng cerpen dadi wong Bekasi sisih lor. Hamidah karaktere yo apik, ara adoh karo mba yu sepupu
Iyo, aku ya ga ngerti nek Mas Dat putra wayah mbah Kus….
Ga pa pa lah tambah sedulur….